Perbedaan Saham dan Obligasi : Lebih CUAN Mana Ya??

Perbedaan Saham dan Obligasi - Bisa dikatakan jika saat ini, saham dan obligasi adalah jenis investasi yang cukup populer dan banyak dipilih oleh masyarakat. Bayangan akan return yang cukup besar secara pasif, membuat jenis investasi ini diburu sebagai celah untuk mendapatkan keuntungan yang relative besar.

Perbedaan Saham dan Obligasi


Namun, sudahkah Anda paham perbedaan saham dan obligasi?

Meskipun tidak sedikit orang yang menganggap keduanya sama saja, pada dasarnya ada perbedaan yang cukup signifikan dari saham dan obligasi.

Perbedaan ini tentu harus menjadi poin untuk dipahami sebelum Anda terjun dalam dunia investasi. Pasalnya, pemahaman ini nantinya juga akan berpengaruh pada bagaimana Anda menjalankan investasi dan mendapatkan keuntungan.


Mengenal Perbedaan Antara Saham dan Obligasi

Sebagaimana disinggung di awal, antara saham dan obligasi terdapat perbedaan yang cukup signifikan dari beberapa aspek. Tentu, Anda yang masih pemula dalam dunia investasi saham ataupun obligasi harus mengetahui perbedaan tersebut secara mendetail.


Perbedaan Saham dan Obligasi: Lebih Cuan Mana Ya??


Adapun perbedaan saham dan obligasi adalah sebagai berikut:


1. Batas Masa Berlaku

Salah satu perbeaan paling mendasar antara saham dan obligasi adalah batas masa berlaku. Untuk mempermudah pemahaman Anda, gunakan ilustrasi berikut.

Seorang pemilik saham akan memiliki hak atas keuntungan dan suara yang ia miliki selama perusahaan itu berdiri atau selama ia memiliki surat bukti dari kepemilikan saham dari sebuah perusahaan.

Di sisi lain, pemilik obligasi hanya akan memiliki hak atas investasi yang ia berikan sesuai dengan masa berlaku yang ada pada surat perjanjian.

Perbedaan Saham dan Obligasi


Dengan perbedaan ini bisa dilihat bahwa saham adalah jenis investasi dengan rentang waktu yang lebih panjang. Hanya saja, Anda juga perlu mengetahui bahwa saham termasuk jenis investasi dengan risiko tinggi meskipun juga akan memberikan keuntungan yang tinggi.

Sedangkan obligasi, ada keuntungan yang bisa didapatkan dari masa berlaku tersebut. Dengan masa berlaku yang sudah pasti, tentu nantinya Anda juga bisa mengatur strategi ke depan atau waktu perjanjian telah habis untuk beralih ke investasi lainnya.


2. Tingkat Keuntungan

Baik saham maupun obligasi pada dasarnya memiliki konsep yang sama, yaitu memberikan keuntungan. Namun, tingkat keuntungan yang dijanjikan diantara saham dan obligasi pun berbeda.

Dalam hal ini, keuntungan yang ditawarkan saham cenderung lebih fluktuatif atau tidak pasti. Artinya, bisa jadi di suatu kesempatan pemilik saham memiliki keuntungan yang besar, sedangkan di kesempatan yang berbeda, ia memiliki keuntungan yang lebih sedikit.

Nah, dibandingkan dengan saham, obligasi memiliki tingkat keuntungan yang cenderung lebih stabil. Secara umum, pemilik obligasi akan mendapatkan keuntungan yang relatif stabil dari awal hingga masa berlaku surat perjanjian obligasi tersebut berakhir.

Untuk Anda yang ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan siap dengan tantangannya, maka saham bisa menjadi pilihan investasi yang tepat. Sebaliknya, jika Anda ingin mendapatkan keuntungan yang stabil, maka obligasi bisa dipertimbangkan.


3. Risiko yang Dihadapi 

Perbedaan saham dan obligasi selanjutnya adalah risiko yang harus dihadapi. Dengan tingkat keuntungan yang berbeda, risiko yang dihadapi keduanya juga tidak sama.

Nah, ketika Anda memilih untuk berinvestasi dengan obligasi, maka ada beberapa risiko yang harus dipahami, yaitu:

  • Risiko gagal bayar

Perputaran uang yang cenderung tidak stabil dikarenakan beberapa hal bisa mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar obligasi yang sudah jatuh tempo. Dalam hal ini, perusahaan swasta cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan milik pemerintah.

  • Risiko capital loss

Pada waktu tertentu, investor bisa saja menjual obligasi dengan harga lebih rendah dibanding nilai saat pembelian. Kondisi seperti inilah yang disebut dengan capital loss.

Adanya perubahan pada suku bunga, persoalan ekonomi dan masalah politik atau hal lainnya dapat membuat capital loss bisa terjadi.

  • Risiko likuiditas

Surat obligasi cenderung cukup sulit untuk dijual kembali dalam waktu yang relatif singkat. Oleh karenanya, obligasi sering disebut tidak terlalu likuid. Jika surat obligasi dijual sebelum jatuh tempo, maka ada risiko investor mengalami kerugian.

Beberapa hal di atas adalah risiko yang kemungkinan muncul ketika Anda memilih obligasi sebagai jalan untuk melakukan investasi. Nah, ketika Anda memilih saham, maka ada beberapa risiko yang juga perlu diperhatikan.


Adapun beberapa risiko investasi saham diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Tidak menerima deviden

Deviden adalah keuntungan yang didapatkan oleh pemegang saham dari perusahaan. Akan tetapi, jika perusahaan tersebut terkena masalah atau mengalami kerugian, maka bisa jadi investor pemegang saham tidak akan mendapatkan deviden tersebut.

  • Suspend

Suspend adalah kondisi di mana sebuah perusahaan diberhentikan sementara atau permanen oleh OJK dan BEI. Umumnya, alasan pemberhentian perusahaan dikarenakan kecurangan seperti menaikkan harga saham dengan cara fiktif. Hal ini dinilai tidak sportif dan Anda yang memiliki saham nantinya turut terkena imbas.

  • Delisting

Delisting memiliki kemiripan dengan suspend. Namun, perlu diketahui bahwa perusahaan yang delisting tidak lagi memiliki akses untuk turut dalam pasar saham. Oleh karenanya, Anda yang memiliki saham di sebuah perusahaan yang delisting akan terkena imbas dan menderita kerugian.

  • Perusahaan pailit

Jika perusahaan tempat Anda menanam saham ternyata bangkrut atau pailit, maka investasi yang Anda lakukan akan hancur. Tidak hanya gagal bayar, bisa jadi seluruh modal awal yang diberikan dalam transaksi saham akan hilang tidak tersisa.

  • Fluktuasi pasar

Harga saham akan sangat bergantung pada sentimen pasar. Oleh karenanya, harga saham bisa berubah mengikuti situasi yang terjadi. Di satu sisi, hal ini memberikan sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan besar. Namun, di sisi yang lain, ada pula risiko yang akan didapatkan.

Beberapa hal tersebut adalah risiko yang ada baik pada ide investasi saham ataupun obligasi. Meskipun berbeda, namun faktanya, baik saham ataupun obligasi memiliki risiko yang harus dipahami dengan baik.

Dengan memahami perbedaan saham dan obligasi secara mendetail, Anda nantinya akan mendapatkan tambahan wawasan sebagai bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk memilih ide investasi mana yang sekiranya dapat memberikan keuntungan besar dan minim risiko.


Lantas, apakah saham dan obligasi memiliki persamaan?

Tentu saja ada. Beberapa persamaan dari saham dan obligasi diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Pemilik saham dan obligasi memiliki klaim atas laba yang didapatkan oleh perusahaan.
  • Pemilik saham dan obligasi memiliki hak tebus untuk menukar saham dan obligasi dengan uang.
  • Saham dan obligasi merupakan surat berharga yang keduanya dijalankan dengan perjanjian hitam di atas putih.

Jadi, bisa disimpulkan jika saham maupun obligasi menawarkan keuntungan atas laba yang diperoleh perusahaan. Hanya saja, persentase keuntungan yang diperoleh bisa saja berbeda.


Di satu sisi, Anda juga harus siap dengan sederet risiko yang menyertai kedua jenis investasi ini. Dalam hal ini, pemahaman strategi investasi sangat dibutuhkan untuk meminimalisir risiko yang akan didapatkan.

Demikian beberapa ulasan tentang perbedaan saham dan obligasi yang perlu Anda ketahui. Semoga bermanfaat.


Akhir Kata

Itulah informasi terbaru mengenai Perbedaan Saham dan Obligasi dari jadwaloperasional.xyz

Penjelasannya mimin diatas cukup mudah dipahami & lebih baik jika segera di praktekkan.

Semoga artikel Perbedaan Saham dan Obligasi ini bermanfaat buat Sobat semua.

Jangan lupa di share ya.

Terima Kasih

0 Response to "Perbedaan Saham dan Obligasi : Lebih CUAN Mana Ya??"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel